Senin, 20 Oktober 2014

Tatkala Indera Perabaku Bercerita



Untuk tetap 'be updated' tentang berita dan aktifitas MBK - Manusia Bunian Kebenaran, aku memang WhatsApp-an tiap hari dengan Harry Panca. Ia seperti radar ataupun satelit yang mampu memantau semua kegiatan MBK dan membagi ceritanya padaku.

Malam itu, aku juga tengah chatting dengannya. Aku tanya padanya jika ia tahu atau pernah mendengar tentang keberadaan sebuah mesjid yang sangat indah di kotaku, yang karena keindahannya, kini justeru menjadi seperti obyek wisata. Arsitekturnya yang lebih Eropa, menarik minat para wisatawan domestik maupun asing. Antusiasme wisatawan ini tentu saja membawa implikasi pada lingkungan sekitar. Antara lain, bus-bus besar para wisatawan menjadi pemicu salah satu macetnya lalu lintas di kawasanku.

Tetapi, tentunya itu bukan masalah yang krusial. Yang mengherankanku... aku pribadi justeru tak terlalu tertarik dengan mesjid itu. Pernah sekali ke sana, itupun sekedar mengantar bundaku yang sangat ingin berkunjung ke sana, mengingat beliau tinggal di Banten. Entah kenapa, aku punya perasaan gak enak ketika berdiri di depan pagar tinggi kediaman pemilik mesjid itu. Pagarnya beton seperti benteng walaupun tidak menutup semua. Tetapi, memang bukan bentuk pagarnya yang bikin aku tak enak. Tetapi aura mistis yang terasa di kulitku yang membuat perasaanku tak nyaman. Semacam keangkeran yang membuatku ngeri. Dan memberiku rasa tak aman.

Lewat WhatsApp, kukirim dua foto hasil bidikanku saat mengantar bundaku dulu itu, ke Harry Panca. Berapa saat setelah mencermati foto itu, Harry Panca tersentak kaget. “Gila !” pekiknya lewat kata.

Kiranya ia menangkap hal yang lebih buruk dari yang aku merasanya. Saat itu pula ia meminta WMBK R untuk memeriksa halnya mesjid itu. Dan ternyata... laporan WMBK R membenarkan firasatku. Bahkan ia punya kesaksian lain yang lebih dahsyat. Maka malam itu... (cerita lengkapnya ada di cerita berjudul 'Mencecah Kabut Hitam Di Jakarta')
Selamat menikmati !